.highlight{ } Debat Bahasa Indonesia Tentang Full Day School - Tugas Sekolah

Debat Bahasa Indonesia Tentang Full Day School

Kata Pengantar
Puji syukur saya ucapkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat-Nya sehingga kami dapat meyelesaikan makalah ini.
Dengan selesainya makalah ini, kami mengucapkan terima kasih kepada Dewi Mulyati, M. Pd. Sebagai guru pembimbing yang telah banyak memberi bimbingan dan masukan selama penulisan makalah ini.
Kemudian, saya juga mengucapkan terima kasih kepada orang tua dan teman-teman yang telah memberikan do’a dukungan dan bantuannya sehingga makalah ini dapat saya selesaikan.
Harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca. Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan dan pengetahuan maupun pengalaman kami. Kami yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangu dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Palembang, 7 Februari 2016


Kelompok 1

Daftar Isi
Kata Pengantar....................................................................................................... ii
Daftar Isi................................................................................................................. iii
BAB I Pendahuluan....................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang.................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah............................................................................................... 1
1.3 Tujuan ................................................................................................................ 1
1.4 Manfaat .............................................................................................................. 2
BAB II Pembahasan....................................................................................... 3
2.1 Pembahasan rumusan yang ke-1......................................................................... 3
2.2 Pembahasan masalah yang ke-2.......................................................................... 4
2.
2.1
2.2
2.2.1 Faktor Penunjang Full Day School......................................................... 4
2.2.2 Faktor Penghambat Full Day school....................................................... 5
2.3 Pembahasan masalah yang ke-3.......................................................................... 5
2.3.1 Kelebihan ............................................................................................... 5
2.3.2 Kelemahan ............................................................................................. 6
BAB III Penutup.............................................................................................. 7
3.1 Kesimpulan......................................................................................................... 7
3.2 Saran................................................................................................................... 7
Daftar Pustaka........................................................................................................ 8

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Munculnya sistem pendidikan full day school di Indonesia diawali dengan menjamurnya istilah sekolah unggulan sekitar tahun 1990-an, yang banyak dipelopori oleh sekolah-sekolah swasta termasuk sekolah-sekolah yang berlabel Islam. Dalam pengertian yang ideal, sekolah unggul adalah sekolah yang fokus pada kualitas proses pembelajaran, bukan pada kualitas input siswanya. Kualitas proses pembelajaran bergantung pada sistem pembelajarannya. Namun faktanya sekolah unggulan biasanya ditandai dengan biaya yang mahal, fasilitas yang lengkap dan serba mewah, elit, lain daripada yang lain, serta tenaga-tenaga pengajar yang “Professional” walaupun keadaan ini sebenarnya tidak menjamin kualitas pendidikan yang dihasilkan.
Term unggulan ini yang kemudian dikembangkan oleh para pengelola di sekolah-sekolah menjadi bentuk yang lebih beragam dan menjadi trade mark,  diantaranya adalah full day school.
Program full day school yang biasanya diterapkan mulai pukul 06.45-15.00 WIB membuat anak banyak menghabiskan waktunya dilingkungan sekolah bersama teman-temannya. Selain waktu yang lebih banyak, biasanya sekolah dengan sistem ini tidak terlepas dari biaya yang dikeluarkan perbulannya bagi setiap orang tua yang memasukkan anaknya di sekolah full day, karena biasanya sekolah yang menerapkan full day school biayanya jauh lebih mahaldari sekolah yang masuk biasa. Hal tersebut disebabkan karena kualitas dan kuantitas yang dimiliki sekolah dengan sistem full day school jauh lebih lengkap dan lebih baik.
Meskipun memiliki rentang waktu yang lebih panjang yaitu dari pagi sampai sore, sistem ini masih bisa diterapkan di Indonesia dan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang ada. Sebagaimana dijelaskan dalam Permendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi bahwa setiap jenjang pendidikan telah ditentukan alokasi jam pelajarannya. Dalam full day school ini waktu yang ada tidaklah melulu dipakai untuk menerima materi pelajaran namun sebagaian waktunya dipakai untuk pengayaan
1.2. Rumusan Masalah
a. Bagaimana pelaksanaan pembelajaran sistem full day school?
b. Apa faktor penunjang dan penghamat full day school?
c. Apa kelebihan dan kekurangan full day school?
1.3. Tujuan
Untuk memperoleh informasi dan kejelasan tentang
a. Pelaksanaan pembelajaran sistem full day school
b. Faktor penunjang dan penghamat full day school
c. Kelebihan dan kekurangan full day school

1.4. Manfaat
Manfaatnya adalah sebagai berikut :
a. Mengetahui pelaksanaan pembelajaran sistem full day school
b. Mengetahui problematika dan solusi dalam pelaksanaan sistem full day school
c. Megetahui kelebihan dan kekurangan full day school

BAB II
Pembahasan

2.1 Pembahasan Rumusan yang Ke-1
Full Day School (FDS) menerapkan suatu konsep dasar “Integrated-Activity” dan “Integrated-Curriculum”. Hal inilah yang membedakan dengan sekolah pada umumnya. Dalam FDS semua program dan kegiatan siswa di sekolah, baik belajar, bermain, beribadah dikemas dalam sebuah sistem pendidikan. Titik tekan pada FDS adalah siswa selalu berprestasi belajar dalam proses pembelajaran yang berkualitas yakni diharapkan akan terjadi perubahan positif dari setiap individu siswa sebagai hasil dari proses dan aktivitas dalam belajar. Adapun prestasi belajar yang dimaksud terletak pada tiga ranah, yaitu:
1) Prestasi yang bersifat kognitif
Adapun prestasi yang bersifat kognitif seperti kemampuan siswa dalam mengingat, memahami, menerapkan, mengamati, menganalisa, membuat analisa dan lain sebagianya. Konkritnya, siswa dapat menyebutkan dan menguraikan pelajaran minggu lalu, berarti siswa tersebut sudah dapat dianggap memiliki prestasi yang bersifat kognitif.
2) Prestasi yang bersifat afektif
Siswa dapat dianggap memiliki prestasi yang bersifat afektif, jika ia sudah bisa bersikap untuk menghargai, serta dapat menerima dan menolak terhadap suatu pernyataan dan permasalahan yang sedang mereka hadapi.
3) Prestasi yang bersifat psikomotorik
Yang termasuk prestasi yang bersifat psikomotorik yaitu kecakapan eksperimen verbal dan nonverbal, keterampilan bertindak dan gerak. Misalnya seorang siswa menerima pelajaran tentang adab sopan santun kepada orang lain, khususnya kepada orang tuanya,  maka si anak sudah dianggap mampu mengaplikasikannya dalam kehidupannya.
Sebelum kita membahas tentang sistem pembelajaran FDS, tentunya kita perlu mengetahui tentang makna sistem pembelajaran itu sendiri. Sistem adalah seperangkat elemen yang saling berhubungan satu sama lain. Adapun sistem pembelajaran adalah suatu sistem karena merupakan perpaduan berbagai elemen yang berhubungan satu sama lain. Tujuannya agar siswa belajar dan berhasil, yaitu bertambah pengetahuan dan keterampilan serta memiliki sikap benar. Dari sistem pembelajaran inilah akan menghasilkan sejumlah siswa dan lulusan yang telah meningkat pengetahuan dan keterampilannya dan berubah sikapnya menjadi lebih baik.
Adapun proses inti sistem pembelajaran FDS antara lain:
1) Proses pembelajaran yang berlangsung secara aktif, kreatif, tranformatif sekaligus intensif. Sistem persekolahan dan pola fullday school mengindikasikan proses pembelajaran yang aktif dalam artian mengoptimalisasikan seluruh potensi untuk mencapai tujuan pembelajaran secara optimal baik dalam pemanfaatan sarana dan prasarana di lembaga dan mewujudkan proses pembelajaran yang kondusif demi pengembangan potensi siswa yang seimbang.
2) Proses pembelajaran yang dilakukan selama aktif sehari penuh tidak memforsir siswa pada pengkajian, penelaahan yang terlalu menjenuhkan. Akan tetapi, yang difokuskan adalah sistem relaksasinya yang santai dan lepas dari jadwal yang membosankan.

2.2 Pembahasan Masalah yang Ke-2
2.2.1 Faktor Penunjang Full Day School
Setiap sistem pembelajaran tentu memiliki kelebihan (faktor penunjang) dan kelemahan (faktor penghambat) dalam penerapannya, tak terkecuali sistem full day school. Adapun faktor penunjang dari pelaksanaan sistem ini adalah setiap sekolah memiliki tujuan yang ingin dicapai, tentunya pada tingkat kelembagaan. Untuk menuju kearah tersebut, diperlukan berbagai kelengkapan  dalam berbagai bentuk dan jenisnya. Salah satunya adalah sistem yang akan digunakan di dalam sebuah lembaga tersebut.
Diantara faktor-faktor pendukung itu diantaranya adalah kurikulum. Pada dasarnya kurikulum merupakan suatu alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Kesuksesan suatu pendidikan dapat dilihat dari kurikulum yang digunakan oleh sekolah. Faktor pendukung berikutnya adalah manajemen pendidikan. Manajemen sangat penting dalam suatu organisasi. Tanpa manajemen yang baik, maka sesuatu yang akan kita gapai tidak akan pernah tercapau dengan baik karena kelembagaan akan berjalan dengan baik, jika dikelola dengan baik.
Faktor pendukung yang ketiga adalah sarana dan prasarana. Sarana pembelajaran merupakan sesuatu yang secara tidak langsung berhubungan dengan proses belajar setiap hari tetapi mempengaruhi kondisi belajar. Prasarana sangat berkaitan dengan materi yang dibahas dan alat yang digunakan. Sekolah yang menerapkan full day school, diharapkan mampu memenuhi sarana penunjang kegiatan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan siswa.
Faktor pendukung yang terakhir dan yang paling penting dalam pendidikan dalam SDM. Dalm penerapan full day school, guru dituntut untuk selalu memperkaya pengetahuan dan keterampilan serta harus memperkaya diri dengan metode-metode pembelajaran yang sekiranya tidak membuat siswa bosan karena full day school adalah sekolah yang menuntut siswanya seharian penuh berada di sekolah.
Faktor lain yang signifikan untuk diperhatikan adalah masalah pendanaan. Dana memainkan peran dalam pendidikan. Keuangan merupakan masalah yang cukup mendasar di sekolah karena dana secara tidak langsung mempengaruhi kualitas sekolah terutama yang berkaitan dengan sarana dan prasarana serta sumber belajar yang lain.

2.2.2 Faktor Penghambat Full Day school
Faktor penghambat merupakan hal yang niscaya dalam proses pendidikan, tidak terkecuali pada penerapan full day school. Faktor yang menghambat penerapan sistem full day school diantaranya :
Pertama, keterbatasan sarana dan prasarana. Sarana dan prasarana merupakan bagian dari pendidikan yang vital untuk menunjang keberhasilan pendidikan. Oleh karena itu perlu adanya pengelolaan sarana dan prasarana yang baik untuk dapat dapat mewujudkan keberhasilan pendidikan. Banyak hambatan yang dihadapi sekolah dalam meningkatkan mutunya karena keterbatasan sarana dan prasarananya. Keterbatasan sarana dan prasarana dapat menghambat kemajuan sekolah.
Kedua, guru yang tidak profesional. Guru merupakan bagian penting dalam proses belajar mengajar. Keberlangsungan kegiatan belajar mengajar sangat dipengaruhi oleh profesionalitas guru. Akan tetapi pada kenyataannya guru mengahadapi dua yang dapat menurunkan profesionalitas guru. Pertama, berkaitan dengan faktor dari dalam diri guru, meliputi pengetahuan, keterampilan, disiplin, upaya pribadi, dan kerukunan kerja. Kedua berkaitan dengan faktor dari luar yaitu berkaitan denagan pekerjaan, meliputi manajemen dan cara kerja yang baik, penghematan biaya dan ketepatan waktu. Kedua faktor tersebut dapat menjadi hambatan bagi pengembangan sekolah.

2.3 Pembahasan Masalah yang ke-3
2.3.1 Kelebihan
Setiap sistem tidak mungkin ada yang sempurna, tentu memiliki keunggulan dan kekurangan termasuk sistem full day school. Diantara keunggulan sistem ini adalah:
· Anak anak akan mendapatkan metode pembelajaran yang bervariasi dan lain daripada sekolah dengan program reguler.
· Orang tua tidak akan takut anak akan terkena pengaruh negatif karena untuk masuk ke sekolah tersebut biasanya dilakukan tes (segala macam tes) untuk menyaring anak-anak dengan kriteria khusus (IQ yang memadai, kepribadian yang baik dan motivasi belajar yang tinggi).
· Sistem Full day school memiliki kuantitas waktu yang lebih panjang daripada sekolah biasa.
· Guru dituntut lebih aktif dalam mengolah suasana belajar agar siswa tidak cepat bosan.
· Meningkatkan gengsi orang tua yang memiliki orientasi terhadap hal-hal yang sifatnya prestisius.
· Orang tua akan mempercayakan penuh anaknya ada sekolah saat ia berangkat ke kantor hingga ia pulang dari kantor
2.3.2 Kelemahan
Sedangkan kelemahan dari sistem ini adalah:
· Siswa akan cepat bosan dengan lingkungan sekolah.
· Lebih cepat stress.
· Mengurangi bersosialisasi dengan tetangga dan keluarga.
· Kurangnya waktu bermain.
· Anak-anak akan banyak kehilangan waktu dirumah dan belajar tentang hidup bersama keluarganya.

BAB III
Penutup

3.1 Kesimpulan
Full day school adalah sekolah sepanjang hari atau proses belajar mengajar yang dilakukan mulai pukul 06.45-15.00. sehingga sekolah dapat mengatur jadwal pelajaran dengan leluasa, disesuaikan dengan bobot mata pelajaran dan ditambah dengan pendalaman materi. Dari makna dan pelaksanaannya, full day school sebagian waktunya digunakan untuk program pelajaran yang suasananya informal, tidak kaku, menyenangkan bagi siswa dan membutuhkan kreativitas dan inovasi dari guru.
Sistem pembelajaran full day school bukanlah hal yang baru. Sistem ini telah lama diterapkan dalam tradisi pesantren melalui sistem asrama atau pondok, meskipun dalam bentuknya yang sangat sederhana.  Bahkan jika ditarik ke belakang, sistem asrama telah dipraktikkan sejak masa pengaruh Hindu-Budha pra-Islam.
Dengan sistem ini diharapkan anak didik memiliki produktifitas yang tinggi sehingga mampu meminimalisir hal-hal negatif yang dimungkinkan dilakukan oleh anak sebagai dampak dari pergaulannya dengan lingkungannya.


3.2 Saran
Terdapat saran yang dapat dikemukakan, yaitu :
1. Bagi sekolah
Sekolah diharapkan dapat mengatasi kendala-kendala yang dapat menghambat pelaksanaan sistem kurikulum fullday school, sehingga pelaksanaannya dapat berjalan lebih optimal.
2. Bagi Guru dan Tim Pengembang Kurikulum
Guru dan Tim Pengembang Kurikulum hendaknya terus meningkatkan kurikulum yang lebih baik lagi, sehingga diharapkan melalui kurikulum Fullday School dapat memecahkan krisis pendidikan dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan yang baik bagi siswa. Sehingga kurikulum Fullday School dapat terus dipertahankan dan kemampuan siswa pun semakin meningkat, tidak hanya berprestasi secara akademik, namun memiliki akhlak dan kepribadian yang baik dan mampu mengembangkan potensi yang ada pada diri siswa. Selain itu, peserta didik diharapkan dapat lebih berprestasi tidak hanya dilingkungan sekolah sendiri namun dapat bersaing dengan sekolah-sekolah lainnya.
3. Bagi Siswa
Siswa diharapkan dapat belajar lebih aktif dan mandiri dalam proses pembelajaran, selain itu siswa diharapkan dapat lebih menggali potensi yang ada pada dirinya sehingga. Karena penentu keberhasilan suatu sistem kurikulum ditentukan oleh kualitas siswa.
4. Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan
Sebagai pengembang kurikulum, hendaknya dapat mengembangkan sistem kurikulum yang sesuai untuk sekolah-sekolah yang memiliki sistem kurikulum fullday, sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung dengan efektif.

Daftar Pustaka
Azizy, Qadri. 2000. Islam dan Permasalahan Sosial: Mencari Jalan Keluar. Yogyakarta: LkiS.
Baharuddin. 2009. Pendidikan dan Psikologi Perkembangan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Basuki, Salim. 2009. Full Day School harus Proporsional Sesuai Dengan Jenis Waktu dan Jenjang Sekolah Dalam Baharudin. Pendidikan dan Psikologi Perkembangan. Jogjakarta: Ar-Ruuz Media.
E, Mulyasa. 2003. Kepala Sekolah Profesional dalam Konteks Menyukseskan MBS dan KBK. Bandung: PT. Ramaja Rosdakarya.
Hasan, Nor. 2006. Full day School (Model Alternatif Pembelajaran bahasa Asing). Jurnal pendidikan. Tadris. Vol 1. No 1.
Nawawi, Hadari. 1985. Administrasi Pendidikan. Jakarta: Gunung Agung.
http://penatintamerah.blogspot.com/2013/01/pendidikan-berbasis-full-day-school.html, diakses pada tanggal 01 Februari 2017.


Show comments
Hide comments

0 Response to "Debat Bahasa Indonesia Tentang Full Day School"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel